Minuman keras telah menjadi masalah dunia. Baik di Afrika, Amerika Latin, Amerika Utara, Eropa, Asia, Australia maupun di mana saja manusia hidup, bahkan di antara suku-suku bangsa primitif di pulau- pulau terpencil pun kecanduan alkohol telah menjadi salah satu persoalan hidup manusia yang utama. Kecanduan minum-minuman keras menghancurkan kehidupan keluarga, pekerjaan, merusak tubuh, dan menjadi sebab utama dari segala macam perbuatan kriminal. Sedikit sekali tempat di bumi ini yang terbebas dari pengaruh yang merusak ini. Sebenarnya, hampir setiap orang dapat menjadi orang yang hidupnya
bergantung (dependent) kepada obat-obatan, khususnya alkohol.
Kecanduan biasanya terjadi jikalau orang yang bersangkutan terus-
menerus membiasakan minum-minuman keras dalam takaran yang tinggi.
Tetapi mengapa ada jutaan umat manusia yang minum-minuman keras
dalam acara-acara sosial tetapi tidak menjadi kecanduan, sedangkan
yang lain kira-kira 10% dari semua peminum terjebak menjadi pecandu?
Ratusan ahli telah mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Memang
tidak ada jawaban yang mudah meskipun kita dapat menyimpulkan, bahwa
ada beberapa penyebab yang bisa membawa orang pada kebiasaan yang
tidak baik tersebut. 1. Perasaan tertekan
--------------------
Banyak orang tergoda untuk minum-minuman keras pada saat mengalami
tekanan hidup yang berat. Mula-mula alkohol memang menolong peminum
melupakan persoalan-persoalan hidupnya, memberikan perasaan tenang
dan nyaman. Tetapi apa yang mula-mula cuma menjadi penolong
sementara itu kemudian dipakai secara terus-menerus, setiap kali
merasa tertekan, kuatir, susah, dan sebagainya, sampai menjadi
kecanduan. 2. Kebudayaan dan latar belakang kehidupan
------------------------------------------
Keluarga dan masyarakat di mana seseorang dibesarkan dapat
mempengaruhi sikap orang tersebut dalam menjadi pecandu minuman
keras. Kalau orangtua adalah pecandu minuman keras, maka anaknya
cenderung menjadi peminum minuman keras pada masa dewasanya. Kalau
minum-minuman keras menjadi acara sosial dalam kebudayaan tersebut,
dan kalau masalah menjadi mabuk cuma merupakan bahan gurauan,
peminum tak punya alasan sama sekali untuk menghindarkan diri dan
mengontrol pemakaiannya. 3. Kepribadian seseorang
------------------------
Pecandu minuman keras biasanya adalah orang-orang yang selalu
gelisah, dengan emosi yang tidak matang, dan tak dapat menghadapi
frustasi. Biasanya mereka sulit menerima otoritas orang lain,
cenderung perfeksionistik, dan selalu merasa terasing di lingkungan
masyarakat. Masalah harga diri seringkali menonjol dimana mereka
cenderung punya perasaan rendah diri meskipun seringkali dicoba
ditutupi dengan lagaknya mendemonstrasikan kepercayaan pada diri
sendiri yang berlebihan. Meskipun gejala-gejala ini nampak setelah
mereka menjadi peminum, sebenarnya gejala-gejala tersebut menjadi
penyebab dari kecenderungannya untuk menjadi peminum. 4. Bakat jasmani
----------------
Apakah benar, bahwa ada orang-orang yang kondisi tubuhnya terlalu
peka terhadap alkohol? Memang mungkin demikian meskipun sebenarnya
bukan kondisi fisik itulah yang menyebabkan seseorang menjadi
peminum. Kalau seseorang membiasakan diri dengan minum-minuman
keras, dengan sendirinya tubuh menjadi terbiasa dengan rangsangan-
rangsangan alkohol tersebut. Untuk mencapai perasaan puas seringkali
dosis minuman keras itu harus ditambah, sampai suatu saat tubuh
menjadi begitu bergantung kepada minuman keras tersebut supaya dapat
memberi reaksi yang menyenangkan perasaan. Kemudian, si peminum itu
menjadi kecanduan secara jasmani ataupun kimiawi, sehingga sulit
sekali untuk dapat diubah kembali. 5. Keadaan rohani
-----------------
Alkitab banyak memberikan kesaksian tentang masalah-masalah yang
berhubungan dengan mabuk. Tentu kita ingat apa yang telah terjadi
dengan Nuh. Ia adalah seorang yang benar, yang selalu berjalan di
jalan Tuhan (Kejadian 6:9). Kehidupannya mutlak dipersembahkan pada
Tuhan, sehingga ia begitu patuh pada perintah-Nya untuk membangun
bahtera di tengah dataran yang kering meskipun terus-menerus
diolok-olok oleh teman-temannya. Alkitab dengan jelas mengatakan
bahwa Nuh diperkenan Allah (Kejadian 6:8), dan menurut kepada segala
sesuatu yang diperintahkan Allah (Kejadian 6:22). Tetapi Alkitab
juga menyaksikan, bahwa Nuh minum terlalu banyak air anggur dan
kemudian mengalami pengalaman yang menyedihkan dan memalukan oleh
karena ia mabuk (Kejadian 9:20-24). Salah satu penyebab utama dari penyalahgunaan obat-obatan dan
alkohol adalah keadaan rohani yang tidak sehat, dan kevakuman rohani
ini adalah gejala umum yang terdapat pada manusia zaman ini. Belajar
dari pengalaman Nuh, jelas bahwa orang beriman pun dapat lemah dan
terjatuh dalam jerat minuman keras. Nampaknya bukanlah hal yang
kebetulan jikalau Paulus menyebut mabuk-mabukan sebagai hal yang
bertolak belakang dengan hidup dalam Roh (Efesus 5:18) di mana ia
menulis "jangan kamu mabuk oleh anggur yang dapat menimbulkan hawa
nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh." 6. Keadaan keluarga
-------------------
Pada saat satu anggota keluarga terjerat oleh minuman keras, seluruh
keluarga menjadi korban. Mula-mula keluarga tersebut berusaha
mengabaikan atau melupakan persoalan itu. Kemudian mereka berusaha
untuk mencegah dengan menyingkirkan minuman keras dari rumah tangga
tersebut atau dengan memarahi peminum tersebut. Seringkali keluarga
berusaha menutup-nutupi persoalan itu dengan pengharapan dapat
berhenti dengan sendirinya. Padahal ini jarang sekali dapat terjadi. Peminum membuat banyak
janji untuk tidak minum lagi, tetapi jikalau ia sudah kecanduan,
masalah menghentikannya menjadi begitu sulit, sikap keluarga makin
keras, ketegangan-ketegangan muncul dalam rumah tersebut, dan
biasanya peminum tersebut justru semakin mendambakan minuman keras.
Jadi, sikap keluarga yang tujuannya baik itu biasanya justru
memperkuat keinginan peminum untuk meneruskan minum. Konseling bagi Pecandu Minuman Keras
------------------------------------
Tidak mudah untuk memberikan konseling kepada pecandu minuman keras
dan keluarganya. Seluruh proses harus dijiwai dengan banyak doa dan
kebergantungan pada pimpinan dan kuasa Roh Kudus. Para ahli percaya bahwa perkembangan yang dicapai biasanya lambat
sampai peminum itu sendiri benar-benar mengambil keputusan untuk
berhenti minum. Kadang-kadang, keluarganya mengambil keputusan untuk
tidak lagi melindungi peminum itu sampai orang itu sendiri melihat
akibat-akibat yang parah dari tingkah lakunya. Perubahan tidak
pernah benar-benar terjadi sebelum peminum membentur garis yang
terbawah, mengalami akibat yang begitu menyedihkan dari
perbuatannya, dan mengakui bahwa dirinya tak dapat dikendalikan
lagi. Paling sedikit ada lima sasaran yang harus diperhatikan pelayanan
konseling bagi pecandu alkohol:
1. Membuat pecandu menghentikan kebiasaannya sama sekali.
2. Memperbaiki kerusakan-kerusakan tubuhnya akibat dari
kecanduannya.
3. Menolongnya untuk menemukan cara bagaimana dapat mengatasi
tekanan dalam hidupnya.
4. Menolongnya menggunakan pengganti alkohol yang tidak menimbulkan
efek-efek sampingan.
5. Menolong membangun kembali harga diri dan mengatasi rasa
bersalahnya secara sehat. Dua hal yang pertama merupakan tanggung jawab dokter. Jikalau
jasmani orang tersebut sudah sedemikian bergantung kepada rangsangan
alkohol, ia tidak dapat menolong dirinya sendiri tanpa pertolongan
seorang dokter, sedangkan konselor-konselor lebih efektif dalam
menghidupkan semangat yang baru, menolong konseli mengatasi rasa
bersalahnya dan mengalami pengampunan, mengajar konseli bagaimana
menghadapi tekanan-tekanan hidupnya dan perasaan tidak berharganya,
memberikan semangat untuk dapat menerima dan memperbarui cara
hidupnya, menolong keluarganya dalam penyesuaian diri kembali, dan
meyakinkan konseli, bahwa hanya Kristuslah yang dapat mengisi
kekosongan hidupnya (Efesus 5:18). Dalam proses bimbingan itu
konseli biasanya jatuh bangun, ada saat-saat di mana dia jatuh lagi
dalam minuman keras yang diikuti dengan kekecewaan dan sikap
menghukum diri sendiri. Tetapi pada waktunya, kesembuhan yang total
bisa betul-betul terjadi.-*- Sumber diedit dari: -*-
Judul Buku: Konseling Kristen yang Efektif
Penulis : DR. Garry R. Collins, Ph.D.
Penerbit : Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang, 2000
Halaman : 177 - 181
Minggu, 17 Mei 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar